Media Indonesia | JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan (Zulhas), kembali menjadi sasaran informasi hoaks. Potongan video Zulhas disebarkan tanpa konteks lengkap usai beliau memberikan arahan dalam Seminar Nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (04/08).
Menanggapi video viral tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Al Washliyah, Mhd Amril Harahap mengecam keras tindakan oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja memotong isi video hingga memicu disinformasi di tengah masyarakat.
Amril menjelaskan bahwa narasi lengkap yang disampaikan oleh Zulhas sebenarnya membahas komitmen pemerintah dalam mendorong swasembada pangan.
“Banyak kebijakan Presiden yang baru, besar, dan mendasar, termasuk mendorong Indonesia menjadi negara yang swasembada pangan. Selama 28 tahun pascareformasi, hal ini kurang diprioritaskan karena Indonesia cenderung mengikuti sistem pasar bebas—asal ada uang, beras bisa diimpor,” ujar Amril mengutip isi video utuh tersebut di Jakarta, Jum’at (07/08).
Amril menambahkan, saat itu Zulhas hanya memberikan gambaran mengenai pola pikir lama, di mana ada pandangan jika menanam padi tidak menguntungkan, lebih baik menanam sawit dan menggunakan keuntungannya untuk membeli beras luar negeri. Pola pikir inilah yang menyebabkan ketergantungan impor selama bertahun-tahun.
Namun, dalam video yang dipotong dan disebarkan secara menyesatkan, narasi yang diambil hanyalah kalimat pendek: *Kalau nanam padi tidak menguntungkan ya tanam sawit, nanti dari keuntungan sawit kita beli beras.” Penggalan tanpa konteks inilah yang akhirnya memicu kegaduhan dan salah persepsi di publik.
“Hal ini sangat bertolak belakang. Sebagai pejabat publik, Pak Zulhas tentu mempertimbangkan setiap pernyataannya. Jika kita lihat kinerjanya sebagai Menko Pangan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, percepatan swasembada pangan, penataan program Makan Bergizi Gratis (MBG), hingga penguatan ekonomi kerakyatan melalui koperasi terus berjalan nyata,” tegas Amril.
Di akhir penjelasannya, Amril mengimbau seluruh masyarakat Indonesia agar lebih bijak dan kritis dalam menyaring informasi serta tidak mudah terprovokasi oleh isu yang tidak jelas sumbernya.
“Berita bohong atau hoaks adalah ancaman nyata bagi persatuan dan keamanan bangsa. Hoaks memicu kemarahan, memecah belah masyarakat, dan merusak kepercayaan publik,” pungkasnya.









