Menu

Mode Gelap
PN Jaksel Dikepung Massa, Praperadilan Febrie Jadi Sorotan: “Jangan Ada Karpet Merah!” Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Brigif TP 37/ HS Tunjukkan Bukti Pencapaian Nyata di HUT Ke-1 Polsek Juhar Amankan Kerja Tahun Gendang Guro Guro Aron di Desa Keriahen Warga Miskin Lidah Tanah Tercatat “Pengusaha Besar” di SIKS-NG, Pemdes Lidah Tanah Diduga Abai Perbaiki Data. Proyek P3-TGAI BWS di Kecamatan Pegajahan Diduga Dikoordinir Oknum Kades. Pemdes Lidah Tanah Bungkam Soal Progres Bansos Pak Herman, Publik Desak Pihak Kecamatan dan Dinsos Sergai Turun Tangan.

Uncategorized

Fenomena Ghost Rich Bagi Anak Muda Sekarang, Menurut Pakar Ekonomi Bisa Menjadi Bom Waktu.

badge-check


					Fenomena Ghost Rich Bagi Anak Muda Sekarang, Menurut Pakar Ekonomi Bisa Menjadi Bom Waktu. Perbesar

Sumatera Utara – Media Indonesia – Fenomena “Ghost Rich” kini ramai diperbincangkan. Di ruang publik, muncul generasi anak muda yang tampak seperti tidak bekerja—tanpa kantor, tanpa seragam, tanpa jam masuk—namun gaya hidupnya stabil, bahkan naik kelas, Selasa.(23/12/25)

Mereka hadir di kafe siang hari, aktif di dunia digital, dan seolah hidupnya terus berjalan tanpa struktur kerja konvensional yang selama ini dikenal masyarakat.

Di balik itu, pekerjaan mereka sering kali tak kasat mata. Penghasilan datang dari atensi: konten digital, afiliasi, trading, freelance global, hingga bisnis berbasis platform. Kantor berpindah ke layar ponsel, jam kerja menjadi fleksibel, dan batas antara bekerja serta hidup sehari-hari semakin kabur.

Inilah wajah baru ekonomi digital, di mana nilai tidak lagi bertumpu pada tenaga fisik, melainkan kemampuan mengelola perhatian dan peluang.

Namun, para ekonom mengingatkan sisi rapuh dari fenomena ini. Banyak penghasilan digital tidak memiliki kepastian jangka panjang, minim perlindungan sosial, dan sangat bergantung pada algoritma atau tren sesaat. Ketika pasar berubah atau atensi bergeser, sumber pendapatan bisa hilang seketika.

Inilah yang membuat sebagian pakar menyebut Ghost Rich sebagai “bom waktu” dalam struktur ekonomi kelas menengah baru.

Fenomena ini bukan sepenuhnya buruk, namun juga bukan tanpa risiko. Ia menjadi cermin perubahan zaman—tentang bagaimana definisi kerja, kaya, dan stabilitas sedang bergeser. Tantangannya kini ada pada kesiapan individu dan negara: membangun literasi finansial, perlindungan sosial, serta sistem yang mampu mengakomodasi realitas kerja baru, agar kelas menengah digital tidak tumbuh rapuh di tengah gemerlap ilusi kesejahteraan.

Disclaimer: Tulisan ini bersifat narasi jurnalistik dan reflektif, bukan penilaian terhadap individu atau kelompok tertentu. Istilah “Ghost Rich” digunakan sebagai fenomena sosial-ekonomi, bukan untuk menggeneralisasi atau meremehkan bentuk pekerjaan apa pun di era digital.(Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Penanganan Dumas Wartawan Empat Bulan Tanpa Kejelasan, Kinerja Polresta Deli Serdang Dipertanyakan.

11 Agustus 2026 - 03:37 WIB

MEDIASI DINILAI BUNTU, KUASA HUKUM KOPERASI KOFIPINDO PERTANYAKAN PROSEDUR LAPORAN KARYAWAN KE DISNAKER MEDAN. 

10 Agustus 2026 - 13:40 WIB

Dugaan Pengoplosan BBM dengan Konden, AR Disebut Pemasok Minyak Konden di Sergai.

5 Agustus 2026 - 13:13 WIB

Cegah Korupsi Untuk Mendukung Ketahanan Pangan, Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara Gelar Penerangan Hukum Pada Dinas Pertanian Dan Ketahanan Pangan

5 Agustus 2026 - 09:28 WIB

Penyampaian Aspirasi Masyarakat Petani Dusun IV, Diwarnai Walkout Ketua BPD Sei Rejo.

5 Agustus 2026 - 07:06 WIB

Trending di Uncategorized