SERGAI – Media Indonesia – Proyek pengadaan pintu air irigasi di Desa Sei Rejo, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) anggaran tahun 2024 kembali menajdi sorotan. Proyek yang dikerjakan oleh Gapoktan Desa Sei Rejo di bawah pimpinan Rijal ini, sebelumnya sempat viral karena diduga dari awal dikerjakan asal jadi dan tidak sesuai spesifikasi, Sabtu (24/03/2026).
Meski pihak Gapoktan melalui Rijal sempat mengklaim telah melakukan perbaikan total dan memastikan seluruh pintu air berfungsi sesuai spesifikasi, namun fakta di lapangan berkata lain. Berdasarkan hasil investigasi, ditemukan setidaknya ada 4 unit pintu air yang masih dalam kondisi belum diperbaiki dengan benar.
Klaim perbaikan tersebut diduga hanya upaya untuk meredam pemberitaan, sementara hasil pengerjaan di lapangan masih jauh dari kata maksimal dan sarat akan dugaan tidak sesuai RAB.
Kadis Pertanian Sergai Bungkam.
Terkait dugaan manipulasi pengerjaan dan klaim palsu perbaikan ini, Kadis Pertanian Sergai, Dedy Iskandar, justru terkesan bungkam. Upaya konfirmasi yang dilakukan awak media melalui via WhatsApp nya, pada hari Jum’at (13/03/2026), tidak mendapatkan jawaban terkait tindak lanjut pengawasan proyek tahun anggaran 2024 tersebut.
Sikap bungkamnya dinas terkait menimbulkan kecurigaan adanya dugaan “main mata” antara pihak dinas pertanian Sergai dengan pelaksana proyek (Gapoktan) sangat terasa. Masyarakat petani di Desa Sei Rejo kini meresah, karena pintu air yang diharapkan dapat mengatur aliran irigasi sawah agar terhindar dari gagal panen justru tidak maksimal.
Dugaan Korupsi Mencuat.
“Klaim Rijal sudah perbaiki keseluruhannya itu bohong belaka. Faktanya masih ada empat unit yang belum disentuh perbaikan sama sekali. Ini ada apa? Publik sangat berharap agar Dinas Pertanian harus turun ke lapangan, jangan hanya menerima laporan di atas meja saja,”
Pihak pelaksana proyek, Rijal, sebelumnya menyatakan telah merespons masukan terkait proyek senilai ratusan juta rupiah tersebut. Namun, kondisi lapangan yang membuktikan perbaikan tersebut tidak tuntas berpotensi merugikan negara dan petani.
Hingga berita ini diturunkan, Kadis Pertanian Sergai belum memberikan tanggapan resmi meskipun dugaan korupsi dan pengerjaan asal jadi terus mencuat. (Tim).










