Sergai – Media Indonesia – Menurut investigasi awak Media dilapangan mengenai polemik permasalahan penutupan saluran aliran irigasi sepihak oleh Yanto di Desa Sei Rejo Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) yang telah berlarut-larut dan belum juga terselesaikan hingga saat ini, meskipun telah ada dilakukan beberapa kali mediasi yang dihadiri semua pihak yang terkait, diduga kuat adanya sarat kepentingan oleh oknum maupun kelompok sehingga membuat permasalahan tersebut belum juga terselesaikan.
Permasalahan tersebut bermula dari teguran ketua P3A Desa Sei Rejo Sasrianto kepada Yanto karena membangun pagar beton diatas top leningan, karena menurut Sasrianto itu melanggar aturan, sementara Yanto merasa berhak karena itu merupakan tanah miliknya yang bisa dibuktikan dengan adanya sertipikat tanah yang diterbitkan oleh pihak BPN, dari permasalahan inilah yang menjadi berkembang dan berkepanjangan sehingga menjadi rumit, sehingga diduga ada oknum maupun kelompok yang menunggangi masalah tersebut karena diduga adanya sarat kepentingan.
Karena menurut informasi yang beredar bahwasanya ada kelompok tani (Koptan) yang melakukan pertemuan guna membahas permasalahan tersebut di rumah Rijal ketua Goptan di Dusun dua, dengan menghasilkan keputusan seperti mereka sepakat untuk menggantikan Sasrianto dari ketua P3A, agar permasalahan ini selesai.
Kemudian awak Media mendatangi kediaman Rijal pada hari Kamis 29 Januari, guna menanyakan mengenai pertemuan tersebut, dan Rijal mengakui adanya pertemuan tersebut dan salah satu poinnya yakni ingin menggantikan Sasrianto dari ketua P3A, dan ini akan kami sampaikan ke Kades guna untuk ditindak lanjuti hasil dari pertemuan kami ini, agar permasalahan penutupan saluran irigasi tersebut segera selesai, bang, “Katanya.”
Sementara dari keterangan dari salah seorang petani yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengatakan, ” sepertinya masalah penutupan saluran irigasi ini sengaja tidak selesai atau di ulur – ulur, biar supaya petani masih tetap menggunakan pompanisasi dalam masalah air, karena kan disitu masyarakat petani dikenakan biaya sekitar 10 – 12 Kg/rante nanti pada saat panen, berarti kan namanya ini sengaja di bisniskan oleh oknum ataupun kelompok sehingga membuat Desa Sei Rejo ini nggak mau maju, sudah ada Pemerintah yang membuatkan saluran irigasi, namun seperti disabotase sehingga tidak berfungsi irigasinya, jadi saya berharap agar pemerintah yang terkait hadir untuk menyelesaikan masalah ini, bang, ” Ungkapnya kepada awak Media pada hari Jum’at (30/01/2026).
Karena yang mempunyai bisnis pompanisasi itu juga ada yang merupakan pengurus dari Koptan maupun Goptan bang, siapa saja mereka yang menjalankan pompanisasi itu pak, tanya awak Media, kemudian petani tersebut menyebutkan inisial diantaranya, SRO, IBL, SHL, SGO, RJL itu yang saya ketahui bang.
Jadi menurut saya ini jelas permasalahan penutupan saluran irigasi secara sepihak oleh Yanto menjadi berkembang dan diduga ada yang menunggangi baik oknum maupun kelompok karena sarat kepentingan, karena menurut saya kalaulah Yanto tersinggung kan cukup minta maaf Sasrianto nya untuk minta maaf, sementara itu sudah dilakukan oleh Sasrianto sewaktu diadakan beberapa kali pertemuan untuk mediasi, kan jadi aneh kalau maaf nya itu tidak diterima malah meminta Sasrianto untuk mundur kan nggak ada korelasinya bang, itu menurut saya bang, ” Katanya sembari mengakhiri pembicaraan.” (Syahrial).











