Menu

Mode Gelap
Walikota Medan Lepas Ribuan Khafifah Pawai Ta’aruf MTQ Ke 59 AKBP Adrian Rizky Lubis Ditunjuk Jadi Kasat Reskrim Polrestabes Medan ‎‎ TPA Sampah di Kebun Adolina Meluber ke Areal Tanaman Sawit, Kadis Perkim & LH Sergai dan Kabid PKPLH Pilih Bungkam. Kajati Sumatera Utara Dorong Mahasiswa dan Pemuda Menjaga Sportifitas Dan Semangat Kerjasama Guna Mendukung Pembangunan Berbagai Aspek Di Sumatera Utara DIDUGA TERJADI TINDAK PIDANA KORUPSI PENGADAAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN JALAN TOL MEDAN-BINJAI SEKSI I, II DAN III SEPANJANG 25,441 KM DENGAN TOTAL NILAI Rp.1.170.440.000.000,- (SATU TRILIUN SERATUS TUJUH PULUH MILIAR EMPAT RATUS EMPAT PULUH JUTA RUPIAH), PENYIDIK KEJATI SUMUT GELEDAH DUA LOKASI DI MEDAN. Pabrik Cat di Medan Labuhan Terbakar, Beberapa Kali terdengar Beberapa Kali Ledakan

News

Diamnya Penegak Hukum: Ada Apa di Balik PT MSB II dan PT SPT?

badge-check


					Diamnya Penegak Hukum: Ada Apa di Balik PT MSB II dan PT SPT? Perbesar

Subulussalam,Aceh||MediaIndonesia_ Sudah menjadi rahasia umum, dua nama perusahaan sawit kini mencuri perhatian publik Subulussalam — PT MSB II dan PT SPT.

Keduanya disebut-sebut telah menjalankan kegiatan usaha meski izin mereka belum lengkap. Sementara di sisi lain, publik mendengar kabar tentang adanya bantuan CSR berupa bus dan pemberian lahan sekitar 100 hektare kepada pemerintah daerah.

 

Namun yang lebih menggelitik bukan hanya soal izinnya, melainkan mengapa aparat penegak hukum tampak bungkam.

Tidak ada penindakan, tidak ada klarifikasi terbuka, bahkan seolah semua berjalan normal.

Masyarakat pun bertanya: ada apa sebenarnya di balik diamnya hukum?

Hukum seharusnya menjadi panglima, bukan alat kepentingan.

Dalam berbagai regulasi — mulai dari UU Administrasi Pemerintahan, UU Lingkungan Hidup, hingga UU Perkebunan — jelas disebutkan bahwa setiap kegiatan usaha wajib memiliki izin lengkap sebelum beroperasi.

Namun jika pemerintah daerah memilih “membiarkan” perusahaan beroperasi tanpa izin dengan alasan kebijakan politik atau ekonomi, maka itu bukan lagi kebijakan, melainkan penyalahgunaan wewenang.

“Pejabat publik tidak boleh menggunakan kekuasaan untuk menabrak hukum, walau dengan dalih investasi,” ujar seorang pengamat kebijakan politik di Subulussalam yang enggan disebut namanya.

CSR sejatinya merupakan tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat.

Tetapi bila dilakukan di tengah pelanggaran izin, maka CSR berpotensi menjadi imbalan kebijakan.

Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi sudah jelas: setiap pemberian yang berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan KEWAJIBAN PEJABAT , adalah gratifikasi yang harus dilaporkan ke KPK.

Maka ketika sebuah perusahaan belum tuntas izinnya tetapi bisa beroperasi setelah memberikan fasilitas atau lahan, muncul pertanyaan moral dan hukum: apakah itu tanggung jawab sosial, atau “tanggung jawab timbal balik”?

Lalu, Ke Mana Penegak Hukum?Kepolisian, Kejaksaan, hingga Gakkum KLHK — semuanya memiliki kewenangan untuk menindak.

Namun dalam praktiknya, penegakan hukum sering tersandera oleh minimnya bukti formil, tekanan politik, atau konflik kepentingan.

Bisa jadi aparat menunggu instruksi, menahan diri karena ada kekuatan besar, atau bahkan terperangkap dalam lingkaran pembiaran sistemik di mana setiap instansi saling menunggu satu sama lain.

Namun publik punya hak untuk bertanya dan menuntut transparansi:

Apakah benar izin perusahaan sudah lengkap?

Ke mana dokumen CSR dan berita acara penyerahan lahan?

Mengapa tidak ada klarifikasi resmi dari pemerintah maupun penegak hukum?

Sebab diam di tengah pelanggaran bukanlah netralitas — itu adalah bentuk keberpihakan pada kekuasaan.

UU Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 memberi hak kepada masyarakat untuk mengawasi dan melaporkan pelanggaran lingkungan.

Artinya, penegakan hukum tidak hanya tugas aparat, tetapi juga tanggung jawab moral warga negara.

 

Masyarakat berhak meminta informasi melalui Komisi Informasi, Ombudsman, atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Sebab keterbukaan adalah jalan pertama menuju keadilan.

Subulussalam Harus Memilih — Taat Hukum atau Taat Kepentingan?

Kota Subulussalam kini berada di persimpangan moral.

Antara membangun daerah dengan dasar hukum, atau membiarkan kepentingan jangka pendek menggerogoti integritas pemerintahannya.

Diamnya aparat mungkin menandakan dua hal: ketakutan atau keterlibatan.

Dan keduanya sama berbahayanya bagi masa depan hukum daerah.

Redaksi percaya, publik tidak boleh bungkam.

Karena ketika hukum diam, suara rakyatlah yang harus menggantikannya.

Keadilan tidak akan turun dari langit — ia harus diperjuangkan dari bumi tempat pelanggaran itu terjadi.

Catatan Redaksi:

Tulisan ini merupakan pandangan redaksi sebagai bentuk pendidikan publik dan dorongan moral agar penegakan hukum berjalan tanpa pandang bulu di Kota Subulussalam.

 

Redaksi //

Pewarta ” IP “

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Walikota Medan Lepas Ribuan Khafifah Pawai Ta’aruf MTQ Ke 59

11 April 2026 - 15:42 WIB

AKBP Adrian Rizky Lubis Ditunjuk Jadi Kasat Reskrim Polrestabes Medan ‎‎

11 April 2026 - 12:16 WIB

Pabrik Cat di Medan Labuhan Terbakar, Beberapa Kali terdengar Beberapa Kali Ledakan

9 April 2026 - 17:15 WIB

Satu Ruko di Marelan di Lalap Sijago Merah, Satu Orang Meninggal Dunia

9 April 2026 - 10:38 WIB

Dalam Acara Turnamen Anniversary SSB New Soccer Pratama Meriahkan Medan, 35 Tim Dari 8 Daerah Ikut Bertarung Merebutkan Piala Bergengsi DPW Dan DPD Gerakkan Rakyat Sumatera Utara.

29 Maret 2026 - 12:42 WIB

Trending di Headline