Menu

Mode Gelap
PN Jaksel Dikepung Massa, Praperadilan Febrie Jadi Sorotan: “Jangan Ada Karpet Merah!” Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Brigif TP 37/ HS Tunjukkan Bukti Pencapaian Nyata di HUT Ke-1 Polsek Juhar Amankan Kerja Tahun Gendang Guro Guro Aron di Desa Keriahen Warga Miskin Lidah Tanah Tercatat “Pengusaha Besar” di SIKS-NG, Pemdes Lidah Tanah Diduga Abai Perbaiki Data. Proyek P3-TGAI BWS di Kecamatan Pegajahan Diduga Dikoordinir Oknum Kades. Pemdes Lidah Tanah Bungkam Soal Progres Bansos Pak Herman, Publik Desak Pihak Kecamatan dan Dinsos Sergai Turun Tangan.

Nasional

Darurat Nasional: 1.167 Nyawa Melayang, Koalisi Jakarta Desak Status Bencana Nasional dan Copot Pejabat Gagal

badge-check


					Darurat Nasional: 1.167 Nyawa Melayang, Koalisi Jakarta Desak Status Bencana Nasional dan Copot Pejabat Gagal Perbesar

Media Indonesia | JAKARTA, 5 Januari 2026. Mengawali lembaran tahun 2026, Ibu Kota Jakarta langsung bergejolak. Gerakan Hak Asasi dan Reformasi Indonesia Sejahtera (GHARIS) bersama Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta telah membangun koalisi 23 organisasi mahasiswa lintas daerah, pemuda dan Bem. Unjukrasa berpusat di Patung Kuda, mereka menggebrak pusat pemerintahan dalam aksi massa pertama di tahun ini. Aksi ini merupakan respons atas tragedi kemanusiaan yang merenggut 1.167 nyawa akibat bencana banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Aksi ini telah dikonfirmasi oleh otoritas keamanan dan menjadi sorotan media utama. Mengutip pemberitaan Kompas, pihak kepolisian telah menyiagakan sejumlah 871 personel.
“Aksi unjuk rasa dari Gerakan Hak Asasi dan Reformasi Indonesia Sejahtera,” ujar Kasi Humas Polres Jakarta Pusat, Iptu Erlin Sumantri (Senin, 5/1/2026).

Koalisi menegaskan bahwa ribuan nyawa yang melayang di Sumatra adalah korban dari Bencana Antropogenik, bencana yang dipicu oleh tangan manusia melalui kebijakan industri ekstraktif yang merusak hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Koalisi mengecam keras narasi pemerintah yang ingin terus mengembangkan lahan sawit yang menggerus hutan.

“Negara tidak peka, ada yang menyalahkan hujan, ada yang bilang mencekam di media sosial, ada yang menyinggung peran mahasiswa, ada bahasa sabotase hingga biadab bagi pencabut baut yang tidak di ketahui siapa dan lainya. Ini adalah kejahatan ekologis dan pengabaian kemanusiaan yang nyata,” tegas Simanjuntak, Ketua Umum GHARIS sekaligus Koordinator Aksi saat orasi di patung Kuda (Senin, 5/1/2026).

*Tuntutan “Bersihkan Kabinet” dari Pejabat Inkompeten*
Dalam orasinya di Patung Kuda, Koalisi Jakarta secara spesifik mendesak Presiden untuk segera memecat pejabat yang dianggap gagal dan tidak memiliki sense of crisis, di antaranya:
1. Mendagri Tito Karnavian dinilai meremehkan kepastian hukum tata kelola darurat bencana .
2. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dikritik keras karena lebih memilih dinas ke Rote saat Sumatra dalam kondisi darurat dan mendukung sikap DPR diminta Menhut untuk mundur.
3. Zulkifli Hasan, bertanggung jawab atas kebijakan pelepasan kawasan hutan masa lalu dan hadir seolah pahlawan.
4. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dituding mengelak dengan menyalahkan curah hujan dan membohongi presiden tekait 97% listrik siap dinyalakan.
5. Kepala BNPB dinilai gagal dalam koordinasi manajemen bencana di lapangan dan lamban.
6. Pejabat lainnya termasuk dari unsur TNI dan BGN yang dinilai menciptakan polemik dan potensi fitnah di tengah penderitaan rakyat.

*Manifesto Persatuan*
Meskipun duka terdalam dirasakan di Sumatra, aksi ini didukung oleh mahasiswa dari Banten, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi. Hal ini dilakukan untuk meneguhkan semangat kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan membuktikan bahwa ketidakadilan terhadap satu daerah adalah luka bagi seluruh bangsa.

“Kami berdiri di sini untuk memastikan bahwa Sumatera tidak sendirian. Fokus kita adalah musuh bersama, kebijakan yang merusak alam dan mengabaikan nyawa rakyat!” seru Deri Ardiansyah, Ketua Umum HMB Jakarta.

Lebih lanjut Ketum GHARIS Jakarta, Rafi Ammar menyatakan dugaan kuat musibah ini bisa di susul daerah lain.

“Sekarang Sumatera, tapi mungkin besok bisa saja Kalimantan, Papua dan wilayah lainnya. Kita generasi muda tidak mau warisan kekacauan”, Pungkasnya.

*6 Maklumat Tuntutan Koalisi:*
1. Deklarasikan Status Bencana Nasional segera.
2. Moratorium Total izin industri di seluruh hulu DAS Indonesia.
3. Pecat Pejabat Inkompeten yang terdaftar dalam tuntutan koalisi.
4. Permintaan Maaf Terbuka dari Presiden atas kegagalan kebijakan ekologis.
5. Restorasi Lingkungan sebagai langkah jangka panjang pencegahan bencana.
Aksi hari ini ditutup dengan penggalangan dana kemanusiaan di kawasan Patung Kuda sebagai bentuk solidaritas nyata mahasiswa bagi para korban di Sumatera.

BARISAN SOLIDARITAS: DPP GHARIS, GHARIS Jakarta, HMB Jakarta, DPP Himakotas, IMT Ciputat, KMM Ciputat (Minangkabau), IMPP Jakarta, KPMDB (Brebes), KBM Galuh Jaya, KM Jambi UIN, Forum Mahasiswa Lamongan, Ikatan Mahasiswa Gresik, PM Kalsel, PM Bekasi, PM Indramayu, Dedikasi Riung Mahasiswa Garut, Permala Jakarta, Himasultra Jakarta, HUPI dan Silaturahmi Mahasiswa Sumatera Selatan (SIMS), Keluarga Mahasiswa Sunan Gunung Djati (KMSGD) dan BEM STIAMI. (Septian Hernanto)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Perkuat Ketahanan Pangan Nasional, Brigif TP 37/ HS Tunjukkan Bukti Pencapaian Nyata di HUT Ke-1

23 Agustus 2026 - 07:42 WIB

Polsek Juhar Amankan Kerja Tahun Gendang Guro Guro Aron di Desa Keriahen

22 Agustus 2026 - 17:39 WIB

Warga Pearaja Minta Pemkab Humbahas Buka Akses Jalan di Desa Matiti II

20 Agustus 2026 - 06:42 WIB

SEMANGAT PERJUANGAN PAHLAWAN, PRAJURIT YONIF TP 904/GARA MATA KIBARKAN MERAH PUTIH DI DELENG 7 DAYANG

18 Agustus 2026 - 17:18 WIB

KEJAKSAAN TINGGI SUMATERA UTARA SAPA PELAJAR SMA NEGERI 2 PERCUT SEI TUAN, Serukan Gerakan Anti Narkoba & Bijak Menggunakan Media Sosial

18 Agustus 2026 - 16:48 WIB

Trending di Nasional