Menu

Mode Gelap
PD IPA Nias Selatan Apresiasi Gubsu Bobby Nasution atas Peresmian Jembatan PP ISARAH: UNIVA Medan dan Labuhanbatu Harus Jadi Pusat SDM Unggul dan Berdaya Saing MASYARAKAT SUBULUSALAM MEMINTA AUDIT MASIF ANGGARAN DANA DESA 2022-2024, DIDUGA DIEMBAT DAN DISEDIAKAN OKNUM Polres Sergai Tolak Laporan Wartawan Terkait Penutupan Sepihak Saluran Irigasi di Desa Sei Rejo, Dinilai Ada Kejanggalan. Puluhan Mesin Judi di Bakaran Batu Beroperasi, Kapolda Sumut Didorong Segera Turun Tangan Bisnis Solar Subsidi Diduga Menggurita di Pasar IX, Status Lahan Gudang Ikut Dipertanyakan

Mahasiswa

HUKUM TRADING ONLINE DALAM ISLAM

badge-check


					HUKUM TRADING ONLINE DALAM ISLAM Perbesar

HUKUM TRADING ONLINE DALAM ISLAM

Oleh: M. Zaki Marpiansyah
Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika, STMIK Tazkia Bogor


Pendahuluan

Di era digital seperti sekarang, trading online semakin populer sebagai salah satu cara memperoleh keuntungan finansial. Namun, bagi seorang Muslim, penting untuk memahami dan memastikan apakah praktik ini sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam atau tidak.

Trading online melibatkan aktivitas jual beli instrumen keuangan seperti saham, forex (valas), komoditas, hingga aset digital seperti cryptocurrency. Lantas, bagaimana Islam memandang aktivitas tersebut?


Dasar Hukum Transaksi Jual Beli dalam Islam

Dalam Islam, jual beli (al-bai’) diperbolehkan selama memenuhi rukun dan syarat yang ditentukan. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)

Namun demikian, tidak semua bentuk jual beli otomatis halal. Terdapat beberapa ketentuan penting, antara lain:

  • Adanya objek atau aset yang diperjualbelikan (baik fisik maupun non-fisik yang bernilai secara hukum).
  • Kerelaan antara penjual dan pembeli (keridhaan).
  • Bebas dari unsur gharar (ketidakjelasan), maysir (judi), dan riba.

Trading Online dalam Tinjauan Fikih

1. Trading Saham

Saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Hukum trading saham dalam Islam ditentukan berdasarkan aktivitas bisnis perusahaan tersebut:

  • Halal jika perusahaan bergerak di bidang yang diperbolehkan, seperti properti, makanan halal, teknologi syariah, dll.
  • Haram jika perusahaan bergerak di bidang terlarang seperti alkohol, perjudian, atau riba.

Pendapat Ulama:
Syeikh Abdullah al-Mani’ dalam Majallah al-Buhuts al-Islamiyyah menyatakan bahwa jual beli saham diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah.


2. Trading Forex (Valuta Asing)

Forex adalah perdagangan mata uang antarnegara. Dalam Islam, transaksi ini termasuk kategori sharf dan dibolehkan dengan syarat:

  • Dilakukan secara langsung (spot transaction) – tidak boleh ada penundaan waktu dalam penyerahan.
  • Tanpa riba – tidak menggunakan sistem bunga.
  • Tidak mengandung unsur spekulasi berlebihan (gharar).

Catatan:
Praktik trading seperti binary options atau spekulasi tanpa dasar analisis termasuk dalam kategori maysir (judi) dan diharamkan.


3. Trading Komoditas

Komoditas seperti emas, minyak, atau logam mulia dapat diperjualbelikan secara syariah dengan ketentuan:

  • Serah terima harus jelas dan nyata (bukan sekadar prediksi harga).
  • Tidak menggunakan margin berbasis bunga.

Jika transaksi dilakukan secara transparan dan tidak menggunakan sistem pinjaman berbunga, maka hukumnya boleh.


4. Trading Cryptocurrency

Aset digital seperti Bitcoin, Ethereum, dan lainnya masih menjadi perdebatan di kalangan ulama.

  • Yang membolehkan berpendapat bahwa crypto merupakan aset digital yang bernilai dan dapat dimanfaatkan sebagai alat tukar atau simpanan.
  • Yang melarang berargumen bahwa crypto tidak memiliki underlying asset yang jelas, memiliki volatilitas tinggi, dan rawan digunakan untuk transaksi ilegal.

Beberapa lembaga fatwa di dunia Islam berbeda dalam menetapkannya, sehingga sebaiknya ditinjau berdasarkan konteks hukum lokal dan fatwa resmi otoritas setempat.


Kriteria Trading Online yang Halal

Agar trading online sesuai dengan ajaran Islam, perlu memperhatikan beberapa prinsip berikut:

  1. Transaksi jelas (tidak gharar): Harga, jumlah, waktu serah terima harus diketahui dengan pasti.
  2. Tanpa riba: Hindari broker atau platform yang mengenakan bunga (swap, overnight fee, dll).
  3. Bukan maysir (judi): Hindari praktik trading berbasis tebak-tebakan, keberuntungan, atau tanpa analisis.
  4. Aset yang halal: Pastikan instrumen atau objek yang diperjualbelikan tidak mengandung unsur haram.

Kesimpulan

Trading online dalam Islam diperbolehkan selama sesuai dengan prinsip-prinsip syariah seperti kejelasan transaksi, bebas riba, bebas gharar dan maysir, serta hanya melibatkan aset-aset yang halal. Namun, jika terdapat unsur spekulasi tinggi, riba, atau objek haram, maka hukumnya haram.

Seorang Muslim harus berhati-hati dan selektif dalam memilih jenis trading yang dijalani, serta senantiasa mencari rezeki yang halal dan diridhai Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Musyawarah Desa Suga Suga Hutagodang Sukses Rumuskan RKPDes TA 2026

13 Januari 2026 - 03:49 WIB

DISCUSI RKPDes TA. 2026 DESA JANJI MARIA: Fokus Pada Infrastruktur dan Ketahanan Pangan

9 Januari 2026 - 04:44 WIB

Polri Kerahkan Tim K-9 dan 17 Personel Tangani Longsor di Jalan Sisingamangaraja, Pancuran Gerobak Sibolga Kota

14 Desember 2025 - 08:20 WIB

PC PIRA Tapanuli Tengah Salurkan Sembako untuk Korban Banjir dan Longsor di Sigotom, Tukka

9 Desember 2025 - 09:24 WIB

Hasil Audit Inspektorat Tapteng Temukan Penyelewengan Dana Desa Bottot

9 Agustus 2025 - 13:57 WIB

Trending di Anichin-Donghua